Monday, March 15, 2010

EATING RESPONSIBLY

As a food enthusiast, the bulb in my head lit up when an offer to try new treat was up. 
Owing its name to Indonesia's most popular tourist destination and a strip of beach there, a newly opened seafood stall included giant crabs imported from Papua in its menu.
These crabs weigh up to 2 kilograms a piece, feeding 3 to 5 people depending on how big your appetite is.
The online community of gastronomy and foodies organized a Meet and Eat soiree in the newest seafood chain somewhere in Pasar Modern BSD, a thriving food center that's becoming more popular for the last couple of year.
The gathering is designed to host up to 40 people, referring to the number or crabs available that night.
Priced at 22,000 per 100 grams, the bills will be divided equally among participants.

At first, I was excited about the meeting and without thinking twice I registered and put myself on number 20 and 21 on the list.
The quota of 40 people has long been fulfilled and another 50 or so is waiting to devour the enormous, presumably-very-tasty-crabs which will be traveling three quarters of the country's length.
Tasting exotic food and meeting new friends would be a perfect way to spend my birthday evening.

Last weekend I went to an eatery just outside Jakarta to accompany a colleague from Houston. In order to give him a memorable meal, we took him to have some giant catfish grilled in huge bamboo tubes.
Since I realized that the bamboo tubes were disposable, I keep having issues about going there. I think that the cooking methods is not environmentally friendly. I never know if the bamboos are taken from a sustainable source, and yet, hundreds and hundreds of stalks are going up in flames everyday, all in the sake of exoticism.
The catfish are farmed on nearby ponds, so now I opt for regular grilled catfish minus the bamboo, and to me they taste even more delicious without the guilt.

Then I remember my upcoming meeting this Friday. 
When we will consume crabs flown in from thousands of miles away.
First, think about the carbon footprints.
Then, the giant crabs themselves may have been irresponsibly harvested from a dwindling mangrove forest, handed out to brokers by indigenous people who in return only received a few thousand rupiahs.
They unknowingly destroy their natural resources just to live by, and surrender to city people's greed because they think they will never run out of crabs. 
They have been around since forever haven't they? 
They will last forever of course. 
Or so they think.

And so I decided to put an end to this demand-and-supply chain, at least for myself.
The excitement resulted will only go as far as my tongue, and maybe my cholesterol level.
Between exotic experience and taking the first step to saving my earth, I choose the latter.


Labels: , , , ,

Wednesday, November 11, 2009

lanjutan hari-hari di bali

DAY 4 (7 OCTOBER 2009) – IT’S OFFICIAL

Gw udah denger tentang UWRF dari taun 2007-an. Dan udah pengen dateng sebenernya, tapi selalu telat info. 
Pas iseng-iseng buka website di bulan-bulan Februari gituh, kok ada pengumuman taun ini bakalan ada NH Dini yah?
Gw suka banget baca tulisan beliau, dan semakin salut setelah tau kalo beliau masih aktif nulis bahkan sampai sekarang (Beliau lahir di Semarang , 29 Februari 1936). Sebagai penulis dan sebagai wanita, beliau adalah sosok yang gw kagumi.
Makanya, the biggest thrill of UWRF 2009 adalah ketemu Ibu Dini. 
Ndilalah, kok malah gw dapet tugas mendampingi beliau selama acara. 
Tugas ini gw terima dengan senang hati. 
Sebage persiapan, semua novel beliau, terutama yang cerita kenangan, gw baca ulang, biar gw punya gambaran gimana kira-kira harus berinteraksi sama beliau.
Kira-kira 2 minggu sebelum ke Bali gw udah lumayan intensif sms-sms sama beliau, dan sampe saat itu sih kayaknya gw gak menemui kesulitan apapun.
Kita udah janjian buat ketemu hari itu, dan gw terus terang agak dek-dekan, karena kuatir ada yang gak berkenan sama beliau.
Sama seperti di buku, NH Dini adalah orang yang sangat organized. 
Waktu janjian ketemu, kita udah punya plan jelas mau kemana aja dan gimana rute perjalanannya.
Di luar dugaan, tujuan pertama beliau sesampai di Ubud adalah makan the world famous Ibu Oka’s suckling pig! (sama dong Bu, saya juga kalo ke Ubud pasti kesini dulu nih!)
Tepat di waktu yang dijanjiin, gw ketemu belio di lobi Maya Hotel.
Yes’ it’s official! I finally met my favorite writer of all time.
Sesuai rencana kita makan di Ibu Oka. Karena beliau masih sehat banget, selera makannya juga bagus.
Abis makan kita balik ke hotel buat siap-siap ikut acara press-conference di Indus.

“Aduh… kok naik turun begini…”
Masalah orang lanjut usia biasanya memang pada gerakan yang udah gak gesit lagi, dan sendi-sendi yang mulai aus. 
Makanya waktu dateng ke Indus, tugas utama gw adalah memegangi beliau selama naik dan turun tangga, karena dalam hal-hal lain, beliau masih sangat sharp.
Sebelom gw ketemu, gw selalu ngebayaning NH Dini sebage sosok ibu, setelahnya, gw harus meralat, beliau bukan ibu tapi nenek gw!

Yang duduk di meja press conference adalah Pak Ketut, Bu Janet, Pak Seno Gumira Ajidarma, Harry Kunzru dan Wole Soyinka.
Walopun katanya pemenang Nobel, gw gak tertarik pengen foto ato tanda tangan sama Mbah Wole yang mirip Morgan Freeman with the Don King hair. 
Mungkin karena gw gak familiar dengan karyanya kali yah…
Selama press conference, ada satu hal yang gw catat.
Waktu ditanya bagaimana peran penulis terhadap masalah-masalah yang terjadi di dunia ini, Ibu Dini menjawab gini (versi singkatnya yah):
“Sebagai penulis saya merekam kejadian yang ada di sekitar saya dan menuliskannya. Dengan harapan itu menjadi cermin bagi pembaca dan keadaan-keadaan yang kurang baik bisa diperbaiki.”
Nah sayangnya, kalimat terakhir gak diterjemahkan karena kayaknya terburu-buru, padahal menurut gw, itulah esensi dari pernyataan beliau dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Dari Indus, kita langsung ke Puri Ubud. Akhirnya, festival yang udah ditunggu lama ini, bakal officially dibuka disini.
Pass Volunteer memang sakti, begitu lihat name tag kita, petugas langsung bilang, “Volunteer silahkan langsung masuk”.
Setelah lewat metal detector, 4 orang usher pake baju tradisional Bali udah nunggu. Di kiri kanan entrance udah ada meja dengan finger food. 
Gw nganter Bu Dini untuk duduk di tempatnya, terus ngacir ke belakang sama volunteer lain.

Waktu lagi duduk di belakang itu, gw liat ada anak kecil yang nanya sama food attendant, apa snack disitu contain pork.
Baru gw ngeh, kayaknya makanan yang disediain emang gak dilabelin ada pork-nya apa nggak, padahal ada beberapa penulis dari Sri Lanka, Afganistan, dan tentunya Indonesia yang kayaknya muslim.
Lucunya, selama acara itu, gw bukannya seneng malah rada tegang. 
Ini bawaan dari kebiasaan ngurusin event di kantor, pas lagi rame-ramenya gini, biasanya kita justru lagi tegang-tegangnya karena takut ada apa-apa. 
Baru setelah semua tamu masuk dan acara mulai, gw rada santai.
Lagi-lagi, gw ketemu kenalan di tempat tak terduga. 
Salah satu tamu Ibu Novi yang jadi business director Bali Spirit Festival taun 2010, adalah dosen copywriting gw waktu kuliah dulu.
Dunia emang sempit!
Prosesi demi prosesi berjalan, dan akhirnya.. 
It’s Official! UWRF 2009 dimulai! 

Setelah opening, acara berikutnya adalah tribute to Rendra di Pura Dalem. 
Sayangnya karena cape, NH Dini gak ikut acara ini. 
Gw pun nemenin beliau pulang, baru balik lagi ke venue. 
Ternyata acaranya rada-rada boring, malah yang menarik yang sesudahnya. 
Duet antara pemain biola dan penari ‘grepe-grepe’, lumayan dramatis dan kocak. 
Begitu acara selesai, tanpa dikomando semua volunteer yang ada disitu langsung bergerak ngeberesin venue, menumpuk kursi dan membersihkan sampah yang berserakan.
Bravo volunteers! 
Ini bukti bahwa kita gak dateng cuma buat seneng-seneng, dan kita memang bisa kerja dengan baik!
Dengan badan cape tapi hati senang, gw balik dan siap-siap buat besok!


DAY 5 – (8 OCTOBER 2009) PANTAT ADALAH PUSAT GRAVITASI

For rent. Motorbike and Pushbike.
Pasti sering banget kan nemu tulisan diatas itu di seputaran Ubud. Lanskap kota kecil ini memang berbukit-bukit, menantang banget buat dijelajahi. 
Taon kemaren gw kemana-mana di Ubud dengan jalan kaki, bahkan sampe Penestanan. Pengalaman yang cukup menyenangkan sebenernya.
Berhubung selama festival acara padat dan kita harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, kayaknya jalan kaki bukan pilihan yang tepat untuk mobilitas kita disini.
Dengan niat pingin olahraga dan tetap sehat…, gw nyewa sepeda gowes dari Padi Homes yang juga punya warnet, dan sewa sepeda motor di depannya. 
Berdua Imel, gw menguji kekuatan fisik dengan ngegowes ke Leftbank. 
Waktu turunan pertama ke Monkey Forest, dengan girang gw ngerasain angin yang berderu kencang di kuping gw, nah pas naiknya lagi… masya Allah, kok gw mendadak jadi bengek begini yah???
Kejadian yang sama terulang lagi di jembatan Campuhan, kayanya sepeda yang gw genjot kok berat banget padahal Imel keliatan tenang-tenang aja? 
Setelah gw perhatiin, ternyata sadel alias dudukan pantat sepedanya Imel udah dinaikin, sementara punya gw masih mentok di bawah.
Pantesan aja sepeda gw jadi berat banget!
Sialnya lagi, ternyata sadel itu tuasnya udah lumayan karatan jadi susah banget diputernya.
Akhirnya kita terima nasib, menuntun sepeda sampe ke Leftbank.
Sebenernya gw tugas baru sore, dan niat ke Leftbank untuk liat2 sapa tau ada yang bisa dibantu, tapi ternyata ada insiden gak enak yang menimpa Imel (yang baru dateng dengan keringet masih gemrobyos dan sebenernya bukan tugas dia ...) dan akhirnya gw ikutan cabut dari situ karena .. males aja gitu loh!

Gw balik lagi ke Padi Homes dan nukerin sepeda gw dengan motor aja deh! 
Sambil nunggu waktu tugas gw mandi lagi dan istirahat sebentar.
Ternyata benar teori gw selama ini, bahwa pantat adalah pusat gravitasi. Pengalaman gw dengan sepeda gowes pagi itu adalah contohnya. 
Dan buat yang masih penasaran pengen naik sepeda di Ubud, pastikan sadel sepeda sudah disetel setinggi mungkin.

Hari itu tugas gw nganterin Ibu Dini buat diskusi di Neka. 
Beliau naik mobil shuttle dari Maya Ubud, sementara gw nyusul naik motor. 
Acara hari itu panel dengan seluruh writers Indonesia. 
Menarik sebenernya walopun dengan 10-an penulis dan waktu yang cuman 90 menit kayaknya diskusi jadi terburu-buru. 
Tapi acara ditutup dengan pembacaan beberapa karya dari antologi UWRF 2009.
Diantaranya Ronjengan yang rancak dari Akhmad Mukhlis. 
Buku antologi yang sampe saat itu baru gw lirik doang, mulai memanggil-manggil untuk dibaca. 
Apalagi gw selalu suka baca segala sesuatu yang berkaitan dengan local culture terutama soal ritual dan kehidupan sehari-hari.
NH Dini dapet undangan early dinner dari salah satu fans-nya yang kerja di Maya Ubud, dan gw juga dapet jatah ditraktir makan.
Bagian paling seru kalo lagi makan ikan bakar buat gw adalah pada saat gw ngebersihin sisa-sisa daging yang nempel di tulang-tulang ikan. 
Dan waktu gw lagi sibuk melalukan aksi pembersihan itu tiba-tiba NH Dini negur gw…, 
“Sudah…, nanti kucingnya nggak kebagian…”
Sambil membayangkan diri gw sendiri lagi garuk-garuk jidad (gak bisa garuk beneran soalnya tangan gw belepetan), gw baru inget yah kalo beliau tuh pencinta kucing dan di resto itu kebetulan memang ada beberapa kucing yang lagi berseliweran. 
Dan gw juga baru inget bahwa beliau penganut Kejawen. 
Di bukunya beliau pernah bilang bahwa setiap kali makan, harus ada sesuatu yang disisain (walopun cuma nasi sesendok). 
Kejadian ini bikin gw flash back ke jaman-jaman mbok gw di rumah masih hidup. Kalo kita udah selesai makan malam, beliau tuh selalu ninggalin tempat nasi di lemari makan, dengan sejumput kecil nasi yang sengaja disisain.
Walopun semua piring dan peralatan makan udah dicuci, tempat nasi itu selalu ditinggalin dan dicuci besoknya.
Terus di hari-hari tertentu, kadang-kadang suka ada aja sesajen yang di taruh di atas daun pisang tergeletak di tempat-tempat tertentu, bisa di pinggir jalan, atau di bawah pohon besar.
Dan bokap gw juga dulu selalu ngelarang gw untuk ngambil uang yang gw temuin tergeletak di jalan, karena bisa jadi itu bukan duit orang yang jatoh, tapi emang sengaja di taroh disitu.
Gw udah lama banget gak pulang dan gak tau apakah kebiasaan itu masih berlangsung sampe sekarang.
Tapi kejadian sore itu bikin gw inget lagi bahwa penduduk Jawa dan Bali itu sebenernya memang berasal dari akar yang sama.

Sesudah makan sore menjelang malam itu, gw gak ada acara lagi, jadi gw ngegabung sama volunteer lain yang lagi jagain acara book launching-nya Cat Wheeler di Tut Mak.
Abis itu gw nemenin mereka makan di Warung Dewa, and more volunteers came and join us.
Kita semua dapet SMS, ada briefing di Padi Homes…
Hmmm, by this time kita udah tau nih bahwa briefing means ada yang mau ngomel, so some of us decided to ignore it!
Two long days gone, 3 more to go...

DAY 6 (9 OCTOBER 2009) – PROFESI SAMPINGAN & BENIH-BENIH
You are entitled to a 1 day off.
Waktu ngisi formulir volunteer kalo gak salah memang ada statement itu. 
Dan karena hari ini Ibu Dini gak ada acara, maka berarti gw ikutan libur.
Selama festival, ada 3 orang lagi penulis yang harus gw dampingi, tapi karena yang lain masih muda dan sehat-sehat, gw cukup ngingetin jadwal mereka tiap hari lewat sms. 
Kalo ada kebutuhan transport dan lain-lain, gw cukup koordinasi sama WL lain via telpon dan ngasi info balik ke 3 penulis lain ituh.
Karena masih ada motor, pagi-pagi gw ngabur ke pasar untuk nyari sarapan khas Bali dan beli jajanan pasar.
Sebenernya Nini yang punya Padi Home itu baik banget dan tiap pagi masakin sarapan yang yummy dan bebas MSG untuk siapa aja yang mau dengan harga yang masuk akal.
Favorit gw adalah sambelnya Nini. 
Mau makan pake apa aja yang penting sambelnya yang banyak! 
And whoever said that makan sambel pagi-pagi bisa bikin sakit perut, kayaknya teori itu gak berlaku buat gw deh!
Sambil sarapan, gw ngobrol-ngobrol bareng Rizki en Alia yang juga udah bangun pagi-pagi (Alia ternyata punya profesi sampingan yaitu jadi penyanyi kasidah cabutan)
Hari itu seharusnya NH Dini minta ditemenin belanja ke pasar, tapi gak jadi karena kakinya sakit.
Akhirnya gw malah makan siang di Casa Luna, nemenin beliau yang lagi ketemu Imam Risdiyanto, wakil penerbit Bentang untuk ngebicarain mengenai hak terbitnya buku beliau yang baru.
Nah buku editan gw yang pertama kebetulan terbitan Mizan, ibu perusahaannya Bentang. Tapi sampe saat itu gw belom dikirimin sample bukunya.
Untung gw ketemu mas Imam, karena kayaknya dia nelpon-nelpon ke kantor gitu, dan pas pulang, ternyata kiriman buku itu udah nyampe ke kos gw!
Setelah makan siang, gw nganterin NH Dini ke hotel, dan balik ke main venue untuk ngikutin acara forum penerbit yang kayaknya diprakarsai oleh IKAPI.
Sebenernya itu acara yang menarik, tapi pesertanya dikit dan cuma kalangan penerbit doang yang dateng. 
Padahal buat penulis yang lagi mau nerbitin karyanya, kayaknya perlu banget deh dateng ke acara itu biar bisa kenalan sama penerbit lokal dan internasional.
Yang dateng waktu itu wakil penerbit dari Filipina, Singapura, Malaysia, Korea, Australia dan tentu aja Indonesia.
Abis dari acara penerbit, tadinya gw berniat dateng ke acara Ode to Martini di Naughty Nuri’s, tapi kayaknya acara itu batal en akirnya gw nongkrong aja di Padi Homes sambil ngedengerin Marsella, Imel, Mirna, Alya dan Sandra ngobrolin pelesetan-pelesetan yang tambah lama tambah ngawur.
Dan sementara itu, ternyata 3 hari udah cukup untuk menumbuhkan benih-benih … ahemmmm diantara para volunteer.
Siapakah yang gw maksud??? Tentu kalian sudah bisa menebak sendiri….

to be continued... again??? hehehe

Labels: , , , ,

Hari-hari di Bali

DAY 1 – SEMINYAK KE BARAT!

Bawa satu koper gede apa 2 tas kecil? Masuk bagasi apa tenteng semua?
Karena kelewat plin-plan, hampir 2 jam gw bolak balik mindahin barang dari satu koper ke koper laen, sementara perintilan laen numpuk di kamar kos gw yang seada-adanya itu.
Biasanya sih kalo gw jalan-jalan gw berusaha packing seenteng mungkin.
Tapi berubung di UWRF ini kayaknya bakal banyak acara macem-macem, gw jadi bawa macem-macem juga.
Sampe curling iron en sendal kondangan aa gw bawa. Maanya bawaan gw jadi kayak turis amatir.
Tapi sebenere yang bikin bawaan gw gak kira-kira penuhnya adalah belasan bukunya Bu NH Dini yang yang mau gw tanda tanganin, ini aja sekoper sendiri, karena gw gak tau buku itu harus dikirim kemana, terpaksa deh gw bawa akirnya.
Setelah mikir untuk yang kesekian kalinya, akirnya gw putusin bawa 2 tas yang semuanya bisa dibawah ke kabin karena gw paling males deh ngurusin bagasi, belon lagi kalo sampe barang nyasar ke pesawat laen, bisa rungsing deh urusannya.
Koper gw yang mungil itu naudubileh beratnya karena gw bawa isi laptop dan buku.

Seperti biasa, untuk menghindari delay,(dan karena biasanya jam segitu harga flight murah), gw milih flight paling pagi Air Asia.
Eh, ternyata sekarang Air Asia dan Mandala berangkatnya gak dari terminal 1 lagi yah, tapi terminal 3 (norak gak sih gw baru tau sekarang!)
Uhmmmm, buat yang belom pernah lewat terminal 3 kayak gw, FYI, tempatnya seru loh, mirip KLIA cuman lebih kecil.
Makanannya juga lebih enak-enak.
Favorit gw adalah 1A Puff, pastel panggang yang bentuk kulitnya unik, sampe2 sepanjang perjalanan Jakarta – Denpasar itu gw gak bisa tidur karena mikirin gimana caranya bikin kulit pastel yang bentuknya kayak gitu….
Ketika akhirnya gw kecapean mikirin hal yang sebenernya gak penting-pentng amat itu, baru deh gw bisa tidur bentar.
Lagi enak-enaknya gw bobo, tau-tau pilotnya udah ngumumin ajah kalo bentar lagi pesawat bakalan landing…
Bener-bener gak sukses deh percobaan tidur gw.

Nyampe di Bali cuaca udah lumayan panas, dan gw baru nyadar ya bahwa selama ini gw selalu dijemput di airport.
Baru kali ini gw harus jalan sendiri, enaknya naik apa yah?
Dengan pede gw masuk ke salah satu taksi bluebird yang baru nurunin penumpang.
Gw lumayan kaget waktu bapak-bapak petugas dengan cukup galak ngejelasin kalo yang boleh dipake cuman taksi bandara.
Sementara mereka minta 50 ribu untuk nganterin gw ke kuta.
Wotttt??? Kayaknya Airport – Kuta tuh cuman sepelemparan kolor doang deh…
Mendingan gw jalan dulu kali yah ke luar. Begitu lewat gerbang parkir gw ketemu taksi yang nganterin gw ke hotel dengan argo 15 ribu aja!
Tuh kan, the walk was well worth it.
O ya, FYI, blue bird di Bali flagfall nya masi 5000 en per kilo nya juga masih 2500.

Krn masih jam 10-an gw cuma nitip barang doang di hotel, dan gw langsung ngider2 naek motor matic sewaan.
Waktu gw ngabarin temen gw bahwa gw nyasar sampe ke Petitenget, gw ditanya:
“Mot, kok gw baru tau lo bisa naek motor matic?”
Jawab gw, “Jangankan elo, gw aja baru tau.”
Gw si mikirnya naek motor matic kan sama aja kayak naek sepeda, tapi gak pake gowes, tinggal ngegas ngerem doang.
Itu sebelon gw sadar kalo gw gak sempat ngeliat dimana letak tombol klakson, lampu sen, sama lampu besar.
Udah gitu gw selalu lupa ngeliat spion kalo gak diklaksonin orang… Parah deh pokoknya.
Setelah nelpon temen gw untuk ngabarin gw nyasar tadi, (yang sebenernya gak bantu secara dia di Jakarta yah), baru deh gw mulai usaha buat cari jalan balik.
Soalnya, kok kayaknya langit mendung banget gitu yah, gw males deh kalo udah nyasar, keujanan, sendiri pulak!
Dengan tampang keliatan banget kayak turis nyasar, gw nanya sama Bli pertama yang gw temuin.
“Bli, kalo mau ke Seminyak ke arah mana ya?”
Tentu aja, dengan cara yang khas Bali, belio pun menjawab..
“Oooh, kalo ke Seminyak ke Barat aja..”
Mendengar jawaban itu pun gw langsung garuk-garuk jidad…
Gimana gw gak tambah bingung nentuin Barat itu dimana.
Lha wong kadang-kadang untuk ngebedain kanan ama kiri aja gw harus mikir dulu, tangan mana yah yang biasanya buat cebok???

Long story short…, akirnya gw ketemu bapak-bapak yang baik, dia lagi ngeboncengin istrinya ke arah Seminyak juga.
Gw disuruh ngikutin dia, dan senang hati gw pun ngikut di belakangnya.
Terus masalah gw selesai gitu?
Ngga juga ternyata.., secara Bli yang baik itu pasti gak tau kan kalo gw baru naek motor tuh hari itu…
Makanya dia berkendara layaknya orang yang udah biasa naik motor (maksudya apaan ya kalimat ini???)
Ya pokoknya gitu deh, dia jalan dengan kecepatan normal dan dengan enteng nyelap nyelip diantara kendaraan lain.
Sementara gw masih takut banget kalo motor gw jalannya lebih dari 20 kilometer per jam, jadi gugup kalo diklaksonin, kalo mau belok harus ngegoes dulu, dan suka kaget sendiri sama tarikan motor kalo gw lagi ngegas, udah gtu gw masih takut ketinggalan lagi … heheh, rumit amat ya kayaknya.
Eniweh, perjuangan gw ngikutin motor itu akhirnya jadi crash-course naek motor di Bali dan gw nyampe ke Seminyak dengan selamat, dan setelah itu (perasaan gw sih ya…) kayaknya gw jadi lebih lancar deh naek motornya.

Setelah peristiwa nyasar itu ternyata gw gak kapok juga sih, gw tetep nyoba ngelewatin jalan-jalan yang gak gw kenal, walopun gw jadi lebih teliti merhatiin landmark-landmark yang gw lewatin..
(Walopun ternyata gak nolong, karena kayaknya gw gak pernah ngelewatin tempat yang sama 2 kali…)

Sore itu, gw ketemu ama temen gw yang orang Bali tapi baru balik dari merantau di Jakarta. Dan waktu ketemu, gw heran aja kenapa he has bigger boobs than me padahal kan dia cowo ya.
Dan kalo diliat-liat, di setiap kompetisi body building, pasti ada cowo Bali-nya. Ade Rai itu loh contohnya.
Dan gw liat even di kampung-kampung juga banyak loh fitness center gituh..
Hmm kalian pria Bali, bisakah menjelaskan mengapa banyak pria Bali sepertinya suka sekali pada usaha-usaha membesarkan otot???

Abis itu, gw juga akhirnya ketemu fellow volunteer yang udah cetingan dan telponan dari Jakarta tapi baru ketemu waktu itu … (akhirnya..), they are Venny and Ochie.
Dan kita janjian buat berangkat bareng besoknya.
Malemnya, gw ketemu juga ama sepupu gw yang tinggal di Denpasar. Dan hari itu gw tutup dengan massage menjelang tengah malam.

DAY 2 – OUCCCHHH! CURHAT NEH CURHAT!
Walopun gak bisa tidur karena kamar gw deket lobi yang rame karena banyak orang mondar-mandir, tetep aja gw bangunnya pagi.
Setengah tujuh teng motor gw udah nangkring di pantai Legian, terus gw jalan menyusur pantai sampe kira-kira sejam-an.
Jalan di pantai pagi-pagi adalah kegiatan favorit gw kalo lagi di Bali, karena udara belom panas, turis belom banyak, suka ada binatang lucu-lucu yang terdampar di pantai, dan banyak dog poo berserakan (well, yang ini sih nggak favorit sebenernya, tapi ya sudahlah…)
Jam 9 pagi, motor udah harus dibalikin, jadi akhirnya gw leyeh2 aja di depan kamar sambil sarapan.
Gw sempat kenalan sama bapak-bapak berkebangsaan Prancis yang udah lama tinggal di Lombok, dan waktu gw iseng-iseng ngomong "Je ne parle pas Francais" yang kira-kira artinya gw gak bisa ngomong Prancis, eh dianya malah adi nyerocos dan ngajak dua orang temennya untuk ngobrol juga.
Akhirnya gw ha-ah ho-oh aja sambil garuk-garuk jidad.

Jam 12 mobil shuttle kita berangkat juga. Cuaca panas banget dan gw berasa kayak di steam deh di mobil. Udah gitu, jarak Kuta – Ubud yang katanya cuman 33 kilometer itu, ditempuh dalam waktu hampir 2 jam!
Hmm, kadang-kadang gw suka gemes, kenapa yah mobil kita gak jalan rada cepet??
Pas nyampe Ubud, kita masih mundar-mandir dulu d seputaran Bebek Bengil buat nemuin Padi Homes yang kita gak tau bentuknya kayak apa ituh.
Dan waktu kita naro tas, kita ketemu sama Imel yang baru dateng juga dari Pasuruan setelah naek bis selama 20 jam!
Wuiiih some journey…

Karena kita semua pada belon makan dan perut udah tereak-tereak, akirnya kita cari makan dulu deh di Warung Ayu di jalan Monkey Forest.
Pelajaran berikutnya, kalo cari makan di Ubud kayaknya mendingan jangan dalam keadaan laper dan terburu-buru deh.
Soalnya makanan baru disiapin kalo dipesen supaya fresh terus.
It’s a good thing sih sebenernya, tapi berhubung kita saat itu kelaperan dan juga takut telat, akhirnya kita jadi gak sabaran nunggu pesenan kita keluar.
Sambil nunggu, kita pun nyiapin Plan A, Plan B, Plan C alias alesan-alesan yang bisa kita kasih kalo ditanya kenapa telat dateng briefing.

Pas nyampe Left Bank kayaknya briefing udah mulai, tapi kok volunteernya bule semua yah? Emang gak ada volunteer indo neh?
Perasaan kayaknya banyak tuh kemaren di email??
Kita baru tau ternyata briefingnya dibedain antara volunteer bule sama volunteer indo. Padahal briefingnya pake bahasa Inggris-inggris juga tuh.
Tau gitu kan kita gak buru-buru ya tadi makannya???
Udah gitu pas giliran kita briefing kok kita malah diomel-omelin dan disambut dengan omongan yang gak ngenakin yah?
Mumpung sesi curhat nih… buat panitia, kami tahu nyiapin event sebesar UWRF pasti gak gampang dan butuh kerja keras.
Dan kami salut banget sama panitia UWRF.
Tapi…, tolong hargai niat baik kami.
Kami juga pengen festival berjalan lancar, dan menghargai bantuan yang diberikan, walopun tidak dalam bentuk finansial, adalah langkah pertama untuk menuju ke arah situ.
Sedih banget rasanya ketika pengunjung aja nunjukkin apresiasi sama sukarelawan (lokal ato internasional..), tapi malah kita diperlakukan gak sopan sama orang yang kita bantu.
Padahal, sepanjang pengalaman gw yang sering ngurus even juga, bahkan para officer yang kita bayar pun gak pernah kita marah-marahin sekasar itu walopun mereka itu cuma satpam ato petugas kebersihan sekalipun…
Mudah-mudahan ini gak terulang lagi di tahun – tahun depan, karena sebenarnya menjadi volunteer itu menyenangkan.
Dan untungnya saat itu kita udah mulai kenal dan seenggaknya ada teman senasib sepenanggungan lah!

DAY 3 – BISA DIMAKAN YAH???
First morning in Ubud!
Festival belom resmi dibuka, tapi udah ada beberapa acara yang bakal dimulai.
Tugas pertama gw hari itu adalah jadi notulen buat Roundtable Meeting Indonesian Writers di Kajane Yangloni.

Karena gak mau buru-buru kayak kemaren, kita berangkat rada pagian.
Jadi masih sempat makan siang santai di Warung Dewa.
Sambil nunggu shuttle gw ngembat Cardamom and Rose Petal ice cream dulu di sampingnya Ibu Oka.
Pas abis makan es krim, ternyata udah ditinggal shuttle.
Akhirnya gw nyari taksi ke venue.
Gak taunya.., karena letaknya pas di lipetan buku, peta yang udah dikasi jadi agak-agak gak jelas gitu, harusnya terus, kita malah belok kiri.
Bukannya nyampe, yang ada nyasar.
Lumayan lama lah supir taksi nyari-nyari tempat cantik itu. Gw udah panik, masa telat lagi sih …
Ternyata pas kita akhirnya nyampe juga, meeting belom dimulai, karena hampir semua orang mengalami masalah yang sama yaitu nyasar.
Diskusi siang itu lumayan seru.
Tadinya suasana adem ayem tapi menjelang akhir acara suhu ruangan naik dan terjadi perdebatan yang mudah-mudahan membangun.
Acara ditutup dengan foto-foto di halaman Kajane yang cantiiiiiiikkkk banget.

Pulang dari round table, gw balik ke Casa Luna karena ada pembukaan pameran lukisan, sekaligus ngobrol sama WL lain karena ada beberapa temen yang tugasnya harus digantiin. Selesai pameran, kita meluncur lagi ke Four Seasons untuk acara cocktail, terus pindah ke Pita Maha buat opening dinner.
Sempet ada insiden nih, salah satu penulis cowo yaitu Mukhlis ketinggalan karena lagi ke toilet!
Untung akhirnya bapak-bapak sopir yang baik mau ngatur temen-temennya yang lain untuk balik dan jemput Mukhlis.

Di Pita Maha ini, gw ketemu Elen, temen yang kenalnya gara-gara sama-sama hobi makan di Rose Garden.
Ternyata dia disini tuh ngewakilin kantornya HiVos, as one of the sponsor.
Ya ampun dunia sempit amad yak.
FYI, ini udah kedua kalinya gw ketemu Elen di tempat-tempat tak terduga.
Sebelumnya adalah, waktu gw lagi piknik ke Kebon Raya Bogor, ternyata doi juga lagi jalan-jalan disitu.
Mungkin gw dan Elen emang ‘berjodoh’ ketemu di tempat-tempat yang banyak pohonnya! (apa hubungannya yak???)

Waktu ngambil makanan, gw gak terlalu merhatiin label yang ada di meja buffet.
Pokoke gw ngambil makanan berdasarkan hasil terawangan visual aja deh.
Yang penting sayur banyak, dan yang laen-laen buat icip-icip ajah.
Naaa, waktu gw makan sayur ini, gw ngerasain sesuatu yang kayaknya cita-rasanya baru. Teksturnya kayak daun singkong, tapi lebih berserat. Agak pait-pait dikit, tapi bukan daun pepaya.
Sayur apakah itu???
Tanya sana tanya sini, ternyata itu Urap daun belimbing!
Lah emang daun belimbing bisa dimakan yah???
Setelah nanya-nanya ke Jalan Sutra, baru tau kalo ternyata daun belimbing itu lumrah dimakan kalo di Bali.
Padahal dulu di belakang rumah gw ada beberapa puun belimbing, dan sama sekali kita gak kepikiran tuh buat makan daunnya. Padahal enak juga loh!
Sayangnya mbok gw yang tukang masak itu udah meninggal, kalo enggak, pasti belio seneng banget kalo gw ajak eksperimen masak urap daun belimbing ini.
Sempet kepikiran pengen bikin sendiri sih di Jakarta, tapi bingung juga, soalnya kayaknya selama 12 tahun gw tinggal disini, gak pernah nemu pohon belimbing tuh.
Ada juga buahnya doang, itu pun di supermarket!
Hmm, hari itu, gw nyobain satu lagi makanan baru yang semur-umur gw ya baru kali itu gw temuin….

to be continued....

Labels: , , , , ,

Wednesday, February 11, 2009

udah mulai bisa jalan dengan bener

Thursday, November 20, 2008

Chinese Horoscope - Iseng Aah

Daydreaming all afternoon sounds heavenly to the Sheep. This creative, esoteric Sign needs plenty of time alone in which to feed its Muse. Sheep are generally most comfortable in their own minds (which other, more linear-thinking Signs may have trouble deciphering). This Sign makes a great craftsperson or artisan, or perhaps a teacher of New Age studies — any occupation that allows its mind the full range of freedom. Sheep tend not to be very well-organized, precluding many more dry business endeavors. In fact, Sheep tend not to be very materialistic in general, finding plenty of riches in their own imagination. However, especially when in love, the Sheep can be quite a lavish gift-giver.

Perhaps it’s that artistic temperament that so often causes Sheep to feel insecure, but the result is that these high-strung creatures need to feel loved and admired lest they start worrying incessantly. For this reason, Sheep tend to have a hard time with romance; anyone who couples up with a Sheep must know, this Sign has a sensitive streak a mile wide and can be subject to bouts of anxiety over seemingly inconsequential things. Sheep need plenty of love, support and open reassurance from their lovers. If a relationship is marked by conflict, the Sheep will often pull away — either physically or simply by retreating into the safe haven of its imagination.

If the romance is going well, however, Sheep won’t hesitate to tell their partner what they need — and they can be quite insistent about it! This Sign will definitely return the favor, however; the Sheep has a luxurious side that delights in indulging a lover’s every wish. Appearances are also important to the Sheep, which may explain why these folks can spend hours primping and posing.

Sheep would be well-served by learning to relax and let others run the show from time to time. Once they can be certain that their friends and lovers won’t be gone when the Sheep returns from its daydreams, life will be a field of daisies.

Friday, October 24, 2008

Karimun Jawa – Day 3

Ketika saya bangun seluruh wisma masih senyap. Saya duduk di gazebo sambil mengamati berkas-berkas cahaya pertama muncul di ufuk timur. Matahari kembali tersaput awan sehingga sunrise tidak sepenuhnya terlihat. Satu persatu teman yang lain muncul sambil membawa kamera masing-masing. Pelajaran moral dari perjalanan ini adalah, dimana ada kamera, disitu ada keramaian. Begitu para fotografer mengeluarkan kamera mereka masing-masing, sontak teman-teman lain menyambut antusias jepretan kamera dengan berbagai pose andalan. Walaupun tampang-tampang yang eksis bisa dibilang itu-itu saja, dan saya salah satu diantaranya. Bakat narsis memang sulit ditahan, apalagi suasana keakraban yang terjalin sangat mendukung untuk memunculkan sifat-sifat memalukan kami yang mungkin selama ini tersembunyi. Belum lagi sebagian besar peserta ternyata juga memiliki kegilaan dan kenekatan masing-masing. Beberapa diantaranya adalah Arianne dan Adri yang nekat nyemplung ke kolam untuk bercengkerama dengan hiu. Hiu-hiu itu sama sekali bukan bahan kekhawatiran karena mereka tampaknya jinak dan takut manusia. Yang mengkhawatirkan adalah karena kolam tempat hiu itu dkelilingi kamar-kamar kami yang memiliki kamar mandi dan toilet di belakangnya. Saya sempat tergoda ingin menceburkan diri juga, namun mengingat lokasi pembuangan dan kolam yang terlalu dekat, saya urung.



Setelah sarapan lontong ayam, kami diberi kesempatan naik banana boat yang sudah termasuk dalam paket perjalanan kali ini. Satu boat diisi 5 orang dan ditarik kapal motor berkekuatan 40PK. Walaupun cukup seru tapi permainan ini rasanya kurang lengkap karena tidak pakai acara terbalik. Padahal saya menunggu-nunggu momen seru dicemplungkan ke laut ini. Mungkin kekuatan motor terlalu kecil karena kapal penarik kelihatan agak kewalahan untuk membelokkan arah boat. Selesai naik perahu pisang, kami bersiap-siap lagi ke pulau Menjangan (besar atau kecil yah?) untuk kembali snorkeling



Tiba di lokasi, ada rombongan lain yang sedang main banana boat juga disana. Kami snorkeling sambil memberi makan ikan dibawah laut. Waktu sedang asik, tiba-tiba saya merasakan sengatan di jari kelingking yang perih dan panas, seperti digigit semut. Padahal saya tidak menyentuh apapun saat itu, semakin menjadi jika tangan berada di dalam air, namun mereda jika tangan saya angkat. Untungnya tidak berlangsung lama walaupun cukup membuat was-was.

Grup kami lalu dibagi dua, sebagian menikmati pemandangan bawah laut dengan glass-bottomed boat. Sebagian lain ditumpuk di perahu yang diisi melebihi kapasitasnya sehingga perahu itu oleng kesana-kemari. Lebih-lebih, acara utama hari itu rupanya bergaya ugal-ugalan sambil terjun dari atas perahu. Lama-lama ketinggian loncatan makin bertambah. Mula-mula dari sisi perahu, lalu dari anjungan atas, lama-lama ada yang nekat terjun dari atap perahu sambil bersalto. Kegaduhan biasanya terjadi jika salah satu dari kami mentas dari laut, atau mengambil posisi siap terjun. Kapal langsung oleng nyaris terbalik. Tadinya saya agak ragu-ragu, tapi momen ‘terbang’ yang diabadikan sepertinya sayang untuk dilewatkan. Akhirnya saya memberanikan diri dan malah akhirnya ketagihan. Waktu pose yang tertangkap kamera ternyata kurang oke, tanpa ragu saya mengulang terjun lagi. Terjangan air asin yang membuat mata dan pangkal tenggorokan terasa panas tidak menghalangi niat untuk mengulangi terjun.

Tapi lama-lama saya kelelahan juga dan kepala mulai pening karena alt snorkel yang saya pakai menekan dahi, serta terkena paparan sinar matahari yang mulai terik. Rombongan pun bertukar tempat ke glass boat yang dikendarai oleh dua orang abk beserta seorang wanita bule. Sepertinya dia pemilik kapal karena ikut terus dengan perjalanan semua grup. Waktu dia berdiri di depan saya, saya perhatikan kulitnya penuh dengan ruam merah dan kulitnya mulai mengelupas. Beberapa kali ia menggaruk-garuk beberapa bagian, sepertinya dia terserang penyakit kulit yang parah, membuat saya begidik gatal.



Dengan glass boat kami meneruskan perjalanan ke penangkaran hiu yang letaknya sebenarnya tidak jauh dari wisma apung kami. Karena pemasaran, akhirnya saya nyemplung juga ke kolam itu walaupun keadaannya tidak jauh beda dari kolam di wisma apung, dengan pertimbangan setelah itu saya langsung kembali ke wisma dan mandi sebersih-bersihnya. Tapi ketika kembali ke kapal dan melihat lagi si wanita bule itu, mau tidak mau badan saya jadi ‘gemremet’, seolah-olah gatal karena pengaruh sugesti padahal tidak ada apa-apa.



Makan siang hari terakhir itu tidak diselenggarakan secara komunal karena kami harus menyambi mandi dan membereskan barang untuk segera meninggalkan tempat itu. Yang saya salut dari rombongan ini, semuanya tepat waktu, tidak ada yang berlambat-lambat dan membuat orang lain menunggu. Saat kembali ke dermaga di Karimun Jawa, mobil yang mengangkut rombongan saya tidak berhenti di toko suvenir, padahal ternyata disana dijual gelang-gelang kayu yang merupakan asesoris favorit saya.



Akhirnya kami harus meninggalkan tempat itu juga. Kapal KMC Kartini yang membawa kami kembali ke semarng bertolak pukul 13.00 tepat. Sejak pertama ombak cukup besar, karena merasa sangat pusing saya memaksakan diri tidur dengan bantuan antimo. Sekitar 2 jam tertidur, goyangan kabin tertnyata tidak kunjung mereda sehingga saya pindah ke buritan untuk mencari udara segar. Benar saja, rasa pusing berkurang sebegitu kami berada di luar ruangan. Rupanya banyak penumpang yang berpikiran sama karena tidak lama kemudian penumpang disarankan kembali ke kabin karena penumpukan kapal di buritan menyebabkan kecepatan kapal terganggu. Tidak kehilangan akal, kami pindah ke anjungan kapal sambil menunggu matahari terbenam yang ternyata tidak tampak karena tertutup awan. Perjalanan kali itu memang jauh lebih lambat karena ombak besar. Tiba di pelabuhan Semarang hari sudah malam dan hujan turun alaupun tidak terlalu lebat. Beberapa anggota yang melanjutkan perjalanan sendiri berpisah di sana. Padahal rasanya masih ingin melanjutkan kumpul-kumpul. Tapi berkurangnya anggota rombongan ternyata membawa keuntungan tersendiri karena saya jadi menempati dua kursi sendiri dan mendapat ruang cukup leluasa di dalam bis.



Walaupun tidak ada di itinerary, kami menyempatkan mampir sebentar di pandanaran untuk membeli oleh-oleh. Lumayan, ada makanan untuk pengganjal perut sebelum kami makan malam. Saya hanya membeli sedikit oleh-oleh untuk teman-teman kantor dan adik saya. Walaupun merk paling beken saat ini adalah Bandeng Juwana, sebenarnya saya lebih menyukai merk Presto yang biasa dibeli keluarga sejak saya kecil. Harganya memang lebih mahal tapi menurut saya rasanya lebih cocok dengan selera. Toko oleh-oleh yang merupakan pionir oleh-oleh khas semarang itu sekarang justru sepi, mungkin karena selisih harganya yang lumayan. Sayangnya saat itu tidak tersedia bandeng ukuran besar yang saya cari, sehingga akhirnya saya membeli di toko Juwana yang saat ini merupakan sentra oleh-oleh paling ramai di Semarang.



Kami melanjutkan perjalanan, dan berhenti sejenak di Bukit Indah yang kami datangi pada pagi sebelum kami ke pelabuhan. Kali ini saya tidak berselera melihat makanan yang khusus disiapkan untuk rombongan seluruh bis Shantika sehingga saya membeli makanan sendiri. Harganya di mark-up gila-gilaan, setara dengan harga makanan di food court Jakarta dengan kualitas jauh di bawahnya.



Sepanjang perjalanan Semarang – Jakarta, saya terkatung-katung antara tidur dan terjaga. Malah saya sempat mimpi naik bis juga, sungguh mimpi yang tidak kreatif sama sekali. Karena kepadatan di perjalanan, waktu tiba molor dari jadwal perkiraan. Seharusnya jam 5 kami diperkirakan tiba di Terminal, tapi pukul 4.30 kami baru masuk Cikopo. Tol Cikampek pun ternyata padat sehingga kami baru tiba pukul 8. Rasa ngantuk, lelah, ditambah keinginan libur lebih lama membuat kami malas harus kembali kerja. Selamat datang ke dunia nyata karena inilah kehidupan sehari-hari. Kata-kata perpisahan diucapkan, diiringkan dengan janji-janji untuk bertemu kembali dan tetap menjaga hubungan pertemanan yang terjalin begitu manis dalam waktu demikian singkat. Perjalanan boleh berakhir tapi persahabatan tetap akan berlanjut. See you guys soon, jangan lupa datang kopdar dan bagi foto-fotonya ya!

Karimun Jawa – Day 2

Di Pelabuhan Semarang, saya tidak menemukan hal-hal yang menarik, mungkin karena masih sepi pagi itu. Suasana mulai hidup ketika Aji, peserta yang datang khusus datang dari Balikpapan untuk ikut trip ini, tiba. Sambil menunggu Kapal Motor Cepat Kartini I yang akan menyeberangkan kami ke pulau, kami menikmati nasi gudeg yang pas sekali dengan selera saya. Apalagi sarapan kami santap sambil lesehan di lantai semen, sambil merasakan semilir angin laut di pagi hari yang sejuk.



Kapal terbagi menjadi 3 bagian, dek atas untuk kelas eksekutif berisi sekitar 56 tempat duduk. Lambung kapal diatur untuk kelas bisnis yang kami tempati dengan 100 tempat duduk. Sedangkan buritan diisi 12 kursi, tapi tersedia cukup ruang untuk penumpang yang bersedia berdiri sambil menikmati pemandangan laut, atau duduk di lantai.



Saat kapal tiba, kami segera mengambil tempat di kabin kelas bisnis, sambil tidak lupa saya mengambil beberapa foto di bagian depan kapal. Setelah tertidur di setengah pertama perjalanan, saya naik ke buritan, dan rupanya goncangan di sana kurang terasa, mungkin karena ruangan terbuka dan angin laut bebas masuk. Sayangnya di kapal tidak tersedia minuman dingin yang pasti nikmat sekali di tengah udara yang panas itu. Tidak lama saya tinggal di sana karena kantuk kembali menyerang. Saya memang minum obat penangkal mabuk mengingat sewaktu berangkat tadi perut baru saja diisi. Walaupun bangku sangat tidak nyaman, saya sukses tidur sampai kapal tiba di tujuan.



Perjalanan memakan waktu 4 jam dan kami tiba di Karimun Jawa ketika hari sedang terik-teriknya. Kami disambut beberapa mobil, motor dan becak yang siap mengantar ke dermaga tempat beberapa kapal motor bersandar. Mereka akan menyeberangkan kami ke wisma apung yang terletak di tengah laut, kira-kira 10 menit perjalanan dari situ. Pulau kecil itu cukup banyak penduduknya dan rumah-rumah penghuni jaraknya cukup rapat. Mengingat letaknya yang cukup jauh dari pulau Jawa mau tak mau saya berpikir, siapa orang-orang pemberani (atau iseng?) yang dulu berkelana sejauh ini mencari penghidupan. Rumah-rumah disini sudah cukup modern, berdinding tembok dan beratap genteng, sayang kami hanya lewat saja sehingga interaksi kami dengan penduduk hanya sebatas hubungan antara penyedia jasa dan pemakainya.



Tiba di wisma apung, perut kami yang keroncongan disambut dengan hidangan santap siang serba ikan yang membangkitkan selera, setidaknya untuk saya. Dilengkapi pula dengan minuman dingin yang sepertinya es kopyor imitasi, makan siang di tengah laut itu rasanya nikmaaaaaaaaat sekali.

Tempat kami tinggal berupa anjungan-anjungan yang dibangun di atas permukaan laut dangkal. Tembok-tembok dari batu didirikan untuk menyangga dinding dan lantai kayu beratap asbes. Kamar kami tersusun sebelah menyebelah, sementara di sisi depan tersedia anjungan yang cukup luas untuk makan, gazebo dan dermaga mini untuk kapal menyandar. Sementara tempat-tempat yang tidak tertutup lantai digunakan untuk memelihara beberapa jenis hiu, penyu dan biota laut lain. Lantai laut di belakang kamar kami yang dangkal dipenuhi dengan bulu babi. Ini adalah konsep tempat tinggal yang benar-benar serasi dengan alam, apalagi hasil buangan dari toilet di belakang kamar langsung ditampung laut lepas. Dan inilah contoh paling lugas dari fenomena rantai makanan mengingat makan siang kami sangat boleh jadi ditangkap dari laut yang sama.



Setelah pembagian kamar dilakukan, sekitar pukul 14.30 kami kembali menaiki perahu. Kali ini, wisata benar-benar sudah dimulai! Pulau pertama yang kami tuju adalah Tanjung Gelam. Di tengah perjalanan, angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan topi yang saya pakai ketka kami sudah hampir sampai di tujuan. Untuk pengemudi perahu berbaik hati memutar balik dan memungutnya dari tengah laut. Selanjutnya topi yang dipinjamkan tanpa diminta oleh teman saya itu, tidak saya gunakan lagi karena mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya hehehe. Garis pantai di Tanjung Gelam tidak begitu luas karena seluruh pulau dipenuhi tumbuhan khas pesisir. Menggunakan alat yang tersedia untuk kami sewa selama dua hari itu, saya belajar snorkeling. Sepertinya ada yang salah dengan teknik bernapas saya karena bolak-balik saya menelan air asin. Tapi karena memakai jaket pelampung, saya nekat berenang agak ke tengah. Ternyata terumbu karang disitu sangat dekat dengan permukaan laut dan tajam-tajam. Di sedikit area yang aman untuk bertengger, arus cukup kuat menarik kami sehingga pijakan kaki goyah. Karena jemari dan lutut saya sudah mulai perih-perih tergores karang, ditambah lagi teknik bernapas saya yang belum benar, saya jadi gugup dan memutuskan untuk bemain-main di pantai saja. Kami tidak lama disitu dan melanjutkan perjalanan ke Lagun Buaya.



Kali ini saya berhasil menemukan teknik bernapas yang benar dengan alat snorkel, dan betapa bahagianya saya menemukan pemandangan indah di bawah laut yang selama ini hanya saya lihat di televisi. Terumbu karang beraneka bentuk terhampar di dasar laut. Gugusan disini lebih ramah karena banyak yang bulat dan letaknya cukup jauh dari permukaan, didominasi nuansa biru dan ungu. Disana-sini terlihat bulu babi dan ikan-ikan yang berenang di sela-sela karang. Sambil berendam di air laut yang hangat saya merasakan desiran-desiran arus bawah laut yang dingin. Sensasi yang baru saya rasakan pertama kali itu sulit dilukiskan indahnya dengan kata-kata. Ketika kepala terbenam dan mata menyaksikan pemandangan indah itu, saya seperti mengungsi ke dunia lain, yang tenang namun memiliki kesemarakan tersendiri. Walaupun hati belum puas namun hari mulai beranjak sore. Kepala saya pun mulai pening, mungkin akibat tekanan air laut dan sisa kepenatan perjalanan yang cukup panjang. Ketika kembali ke pulau sambil menyaksikan matahari terbenam di laut lepas, firasat saya bahwa perjalanan ini akan menyenangkan menjadi kenyataan. Kalau bisa, seluruh mal di Jakarta ingin saya tukar dengan luasan alam ini. Tiba di wisma apung, sisa semburat sinar matahari masih tertinggal di sela-sela awan, saya memanfaatkan saat-saat terakhir ini untuk mengambil gambar karena tadi kamera saya tidak terbawa.



Sambil menunggu makan malam, kami punya cukup waktu untuk mandi dan membersihkan diri. Walaupun air agak asin tapi itu tidak masalah buat saya. Rasa-rasanya air di kawasan Pasar Baru dan Kelapa Gading tidak lebih baik kualitasnya daripada air di wisma. Acara dilanjutkan dengan makan malam dan perkenalan. Acara perkenalan ini cukup sukses membuka aib masing-masing peserta, termasuk mengulik-ulik kisah-kisah masa lalu (ahem!). Walaupun belum hapal nama semuanya, namun keakraban sudah mulai terjalin diantara kami. Sisa malam diisi dengan tawa dan canda serta perbincangan-perbincangan yang menyejukkan hati. Hanya kepenatan yang akhirnya mengantar kami ke kamar masing-masing, mengingat esok hari kami sudah harus bangun kembali. Sesuai perkiraan saya, kamar tidur kami sama sekali tidak panas karena sirkulasi udara cukup. Hanya saja sekitar pukul 2, saya terbangun dan merasakan di dalam kamar agak pengap karena angin tiba-tiba mati. Pintu kamar saya buka sedikit agar udara sejuk diluar kamar masuk ke dalam, dan saya kembali nyenyak sampai pagi.

Karimun Jawa – Day 1

Keikut sertaan saya dalam trip karimun Jawa yang diadakan jejakkaki diambil berdasarkan impuls. Setelah 2 minggu melihat pengumuman wira-wiri di milis, saya pikir pasti peserta sudah penuh. Bermula dari keisengan menelpon Santos, tiba-tiba saya sudah memegang bukti pelunasan pembayaran untuk perjalanan tersebut. Sejak itu, setiap hari adalah penantian yang panjang.



Walaupun cukup santai ketika berkemas, pada hari keberangkatan, tak urung saya deg-degan juga. Ketika kita diburu waktu untuk melakukan sesuatu memang rasanya penghalang sekecil apapun bisa sangat menjengkelkan. Peserta dijadwalkan berkumpul pukul 6 sore di Terminal Rawamangun, dan saya merencanakan pulang dari kantor pukul 4, agar ada waktu bersiap-siap dan mandi dulu. Rencana tinggal rencana, waktu yang saya tentukan sudah lewat tapi meeting belum berakhir dan klien saya secara ajaib menemukan hal-hal baru untuk dibicarakan. Saya pulang dengan terburu-buru, mandi pun dilakukan kilat. Untunglah semua bawaan sudah disiapkan sehingga pada perjalanan kali ini tidak ada satu barangpun yang tertinggal.



Saya janji untuk bertemu di Gedung BNI dan berangkat bersama teman yang baru saya kenal Adri, ke Terminal Rawamangun.



Hari mulai gelap, jalanan mulai padat dan hujan rintik-rintik mulai turun. Pikiran saya dipenuhi kegelisahan dan penasaran akan banyak hal. Ketika kami tiba, ternyata sudah banyak teman-teman yang berkumpul di terminal, dan ketika kami menaiki bis, diluar dugaan ternyata hampir semua bangku sudah terisi penuh. Saya dan Adrie duduk di bangku paling belakang di lajur kiri.

Setelah peserta terakhir Djony, datang, bis Shantika yang resminya bertrayek Jepara – Jakarta berangkat lebih awal setengah jam dari waktu yang ditentukan. Ini adalah sebuah awal yang baik, dan saya memiliki firasat bahwa perjalanan ini akan menyenangkan.



Suasana menyenangkan yang terbangun sejak awal ini membuat hati saya tetap ringan walaupun tempat duduk di bis kurang nyaman. Sebelah kaki saya sakit akibat posisi duduk yang canggung, tapi ajaibnya saya tetap tidur nyenyak, padahal biasanya saya sulit tidur dalam perjalanan meskipun untuk jarak jauh. Tetapi saat itu memang suasana dalam bis terasa senyap, setidaknya dari tempat saya duduk, mungkin karena kami belum saling mengenal.

Secara umum perjalanan cukup lancar, kepadatan yang terjadi di satu dua titik bukanlah sesuatu yang tidak wajar dan tidak menyebabkan keterlambatan dalam perjalanan kami.

Pukul 21.45 kami tiba di rumah makan Taman Sari yang terletak di daerah Pamanukan. Dan yang pertama-tama dilakukan para wanita adalah antri ke toilet, walaupun kebersihan kamar mandi cukup memprihatinkan, tapi sepertinya tempat pemberhentian ditentukan oleh jasa penyelenggara angkutan sehingga kami hanya bisa terima saja. Tapi jika boleh memberi masukan, di sepanjang rute Ciasem – Pamanukan, banyak terdapat rumah-rumah makan yang namanya selalu identik dengan nama wanita. Dari Vicky sampai Lastri semua ada, tetapi yang terbanyak adalah rumah makan dengan judul Ragil atau Ligar, kebalikan dari Ragil. Rumah-rumah makan itu merupakan tujuan perhentian dari truk-truk pengangkut barang yang melintas di sepanjang jalur pantura. Tapi tidak semua warung itu merangkap sebagai warung lampu merah, banyak diantaranya yang menyajikan menu-menu yang enak, murah dan fasilitas kamar mandi yang sangat bersih, pengunjungnya pun bukan melulu supir truk, warga biasa juga banyak. Salah satunya adalah rumah makan Nicki. Pengetahuan ini saya dapatkan setelah beberapa kali ikut truk pengangkut barang dari gudang di Karawang ke tempat ayah saya bekerja di Pekalongan dulu.

Sambil menunggu, saya menggunakan waktu untuk berkenalan dengan peserta lain. Bulan muncul walaupun belum penuh. Langit malam dipenuhi kelelawar yang berkelebat dari arah pepohonan di samping lahan parkir.



Bis melanjutkan perjalanan dan ketika saya dibangunkan ternyata hari sudah pagi. Berarti saya benar-benar tidur lelap karena tak terasa bis sudah sampai di rumah makan Bukit Indah yang terletak di Gringsing. Kami sengaja berhenti agak lama disini karena jarak ke Semarang sudah dekat sedangkan hari masih sangat dini, sementara kapal baru akan bertolak pukul 9. Lagi-lagi kami ke kamar mandi, dan kali inipun kamar mandi kurang bersih. Bahkan di seluruh penjuru tempat menguar aroma kurang sedap yang saya perkirakan berasal dari kandang ayam entah dimana. Ketika saya sedang di kamar mandi, saya melihat stiker bermerk Sweet Love. Saya ingat sekali, ini adalah merk celana dalam wanita yang sudah ada sejak dulu, salah satu barang dagangan paling laris di toko milik nenek saya yang sekarang sudah almarhum (tokonya). Celana dalam merk Sweet Love ini terbuat dari bahan katun elastis yang nyaman, tapi jauh dari modis karena berpinggang tinggi menutup pusar dan bermodel gombor, tidak seksi sama sekali, apalagi stiker yang tertempel disitu size-nya LLL. Saya geli sendiri karena teringat masa-masa kecil dulu, melipat-lipat barang dagangan berbagai warna dan ukuran adalah tugas wajib saya setiap kali nenek saya selesai kulakan. Tak disangka merk yang satu itu masih tetap eksis sampai berpuluh-puluh tahun kemudian tanpa banyak promosi.

Dua rumah makan yang kami sambangi saya perhatikan memiliki kesamaan, yaitu, semua pegawainya memakai seragam yang mirip, bermotif batik geometris berbentuk belah ketupat. Di Pamanukan warna seragamnya hijau, sedangkan di Gringsing biru.

Setelah hari cukup terang kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tanjung Mas Semarang.

Friday, October 10, 2008

KISAH BOTOL AQUA

Sehubungan dengan pemanasan global yang makin gila dan efeknya udah mulai kerasa di kehidupan sehari-hari, gw berusaha untuk berpartisipasi menjaga lingkungan dengan cara yang gw bisa.
Nah cara-cara itu biasanya dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Contohnya, sekarang, tiap kali makan siang, gw menghindari beli air minum dalam kemasan. Mau itu aqua botol, aqua gelas, ato teh siap saji yang biasanya disajiin di gelas plastik.
Masih berhubungan dengan botol aqua, gw berusaha memanfaatkan botol2 aqua gelas di kos gw untuk berbagai macam keperluan, misalnya, buat naro karbol, ato sabun cuci dan benda2 cair lain, karena biasanya gw beli benda2 itu dengan kemasan isi ulang biar lebih hemat.
Kadang2 juga botol yang udah dicuci gw isi air minum lagi en gw taroh di kulkas, walopun dalam hal ini ngga gw simpen lama karena katanya ngga sehat dan takut terkontaminasi

Semalem gw itu habis nyuci2, dan karena cape, gw geletakin aja tuh botol di samping kasur gw yang ngampar dibawah, pikir gw, besok aja baru gw beresin.
Tapi ketika bangun pagi, yang pertama gw pikirin tuh adalah "gw laper berat!!" padahal jarang-jarang tuh gw laper pagi2 banget gitu, karena gw biasanya sarapan setelah gw nyampe di kantor, bisa jam 9 ato jam 10 pagi. Kalo wiken malah kadang2 sarapan gabung ama makan siang sekalian.
jadi, begitu bangun pagi, yang gw lakukan pertama kali adalah masak indomi, terus nongkrong di depan tv sambil ngemilin indomie anget, lengkap dengan air dan jeruk dingin yang fresh from the kulkas.

Nah waktu gw lagi makan sambil nongton tipi gitu, tiba2 kok leher gw seret ya? Spontan gw pun ngambil air dingin di sebelah gw sambil mata gw ngga lepas dari tv.
Tiba2 waktu gw berasa itu air udah hampir masuk ke mulut gw, kok gw mencium 'wangi' yang aneh dari botol yang gw pegang, sama sekali bukan bau jeruk.
Spontan gw mengalihkan perhatian, dan ternyata yang hampir gw tenggak itu adalah botol aqua berisi cairan sabun sodara-sodara!!!
Gw ngga nyadar karena gw duduk di deket tempat botol itu gw taruh dengan asal2an semalem, dan botol minum bertengger dengan manisnya disebelahnya.
Pelajaran moralnya: jangan naro cairan sabun di botol aqua karena bisa salah minum!!!

Labels: ,

Wednesday, September 24, 2008

Ku Bahagia - Sherina Munaf

Kita bermain-main
Siang-siang hari Senin
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia, semua bahagia

Kita berangan-angan
Merangkai masa depan
Dibawah kerindangan dahan
Semua bahagia, semua bahagia

Matahari seakan tersenyum
Walau makan susah walau hidup susah
Walau tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Oh Ku bahagia

Kita berlari-lari
Bersama mengejar mimpi
Tak ada kata tuk berhenti
Semua bahagia, semua bahagia


note:
kalau dengar lagu ini, rasanya semua kesusahan di hati gw hilang
walaupun saat ini gw ngerasa di jurang yang paling dalam di kehidupan gw
tapi lagu ini mengingatkan gw untuk bersyukur dalam keadaan paling susah sekalipun